Balon Bupati Sentil Kinerja Ratu Tatu

Dialog Publik Kahmi Kabupaten Serang

ATMnews.id, SERANG – Visi Kabupaten Serang Terwujudnya masyarakat yang berkualitas menuju Kabupaten Serang yang agamis, adil dan sejahtera, dinilai belum menyentuh dengan kondisi masyarakat saat ini.

Kritikan tersebut dilontarkan salah satu bakal calon (Balon) Bupati Serang, Eki Baihaki saat dialog publik yang digelar MD KAHMI Kabupaten Serang di Anyer, Jumat (20/12/2019) malam.

Eki mengatakan, Kabupaten Serang yang dulu dikenal agamis, sekarang nyaris hilang.

“Bisa kita lihat, beberapa kegiatan keagamaan yang dulu sempat berjalan saat ini dihilangkan, seperti pengajian bulanan, pengajian akhir tahun, tarawih berkunjung dan jumatan keliling,” papar Eki.

Lebih lanjut Eki menjelaskan, program-program keagamaan yang hilang itu, sempat berjalan selama belasan tahun tahun, yaitu saat ayahnya, A Taufik Nuriman menjabat wakil bupati satu periode dan menjabat bupati dua periode.

“Jikalau nanti kalau saya ditakdirkan menjabat Bupati Serang, program-program itu akan dilanjutkan,” jelasnya.

Yang lebih miris lagi, lanjut Eki, adalah menjamurnya penyakit masyarakat (pekat), seperti prostitusi, tempat hiburan malam dan miras dijual bebas. Dengan demikian Ia mengaku prihatin serta menyayangkan hal ini terjadi di Kabupaten Serang.

“Jakarta dan Surabaya saja yang bukan daerah berbasis agamis pemerintahnya peka. Kali Jodo di Jakarta sudah tidak ada, begitupun Gang Dolly di Surabaya,” tegasnya.

Persoalan Pekat ini, tandas Eki, menjadi tugas Pemda dan DPRD untuk membereskannya, agar generasi ke depan dapat terselamatkan. “Seperti tempat hiburan malam misalnya, itu sebetulnya hanya butuh ketegasan saja, sebab ketika dicek, itu izinnya pasti izin resto,” imbuhnya.

Kemudin selain persoalan itu, Eki pun menyoroti soal tingginya angka pengangguran. Berdasarkan data BPS yang dirilis November 2019 lalu, Kabupaten Serang yang merupakan daerah industri, angka penganggurannya tertinggi di Banten, yakni 10,65 persen. Data BPS itu, kata Eki, sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Saat road show ke bawah, saya biasanya minta agar dikumpulkan 50 anak muda yang sudah lulus sekolah (SMA/SMK). Dari 50 orang itu yang bekerja rata-rata hanya 10 orang. Ini sudah saya lakukan di beberapa kecamatan,” paparnya.

Solusi yang akan dilakukannya, kata Eki, selain mendorong terbukanya lowongan kerja di sektor non industri, juga dengan memberantas praktik-praktik pungli. “Karena ketika saya tanya, ternyata untuk dapat masuk kerja di pabrik, mereka (pelamar kerja) ini dimintai uang,” katanya. (Aden)

 

Via Redaksi
Disarankan Untuk Anda
Komentar
Loading...